DEPOKTIME.COM, Depok-Kota Depok hari ini (Senin) 27 April 2020 berulangtahun ke 21 Tahun. Diusianya yang sudah dewasa, Kota Depok masih tidak mempunyai identitas atau ciri sebagai sebuah kota dan tidak ada tujuan serta rencana pembangunan yang jelas arahnya, walaupun pernah didengungkan sebagai Kota Belimbing, Kota Ikan Hias dan sebagainya, namun semuanya hanya sebuah slogan saja. Propaganda yang tidak dikelola sebagaimana lazimnya sebuah program strategis sebuah kota.
Mengenai hal tersebut, Ketua DPD LPM Kota Depok Yusra Amir mengkritisi pembangunan Kota Depok yang tidak jelas arahnya baik pembangunan secara fisik maupun pembangunan manusia dalam rangka meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
“Depok dibangun sebagai sebuah kota yang diperuntukan bagi siapa..?,” ujarnya kepada Depoktime.com melalui aplikasi Whatsapp pada Senin (27/04/2020).
Ia menerangkan jika pembangunan di Kota Depok sejak 21 tahun lalu telah mencanangkan program peningkatan ekonomi, pendidikan bagi warga Depok saat itu. Tapi dengan arus urbanisasi yang tinggi, pendidikan dan kesejahteraan warga malah terabaikan.
Pembangunan, lanjutnya, diarahkan untuk daya tarik agar orang berdatangan ke kota depok, sementara warga asli Depok (Betawi) secara perlahan mulai terpinggirkan. Lingkungan yang tidak tertata menjadikan pemandangan yang kumuh dengan jalan sempit.
Jumlah penduduk asli hanya berkisar 20-30 persen dari jumlah penduduk Kota Depok dan pembangunan saat ini lebih diarahkan untuk menerima para pendatang baru yang juga membawa banyak persoalan kesenjangan sosial karena sektor ekonomi ditambah masalah kemacetan yang ditimbulkan oleh peningkatan jumlah kendaraan, masalah moral dan banyak lagi persoalan yang terakumulasi selama 21 tahun ini.
“Sepertinya Depok dipersiapkan untuk menampung kaum urban terlihat dengan kegiatan pembangunan yang ada seperti maraknya pembangunan hotel, apartemen dan pusat perbelanjaan. Tentunya pembangunan tersebut untuk menarik orang luar Depok agar mau tinggal di Depok,” terangnya.
Pembangunan yang saat ini terjadi, lanjutnya, tidak diiringi dengan perencanaan secara matang. Hal tersebut dikarenakan Kota Depok belum memiliki rencana tata kota yang detail. Sehingga arah pembangunan antar kecamatan tidak terintegrasi baik dengan kota sekitarnya. Simbol kemajuan diukur dari tingginya gedung apartemen, mall, hotel. Padahal dibelakang gedung tersebut hanya tersisa jalan-jalan sempit, rumah tanpa halaman dan tidak ada ruang terbuka hijau yang memadai.
“Banyaknya pembangunan yang tidak terintegrasi dengan kota lain disekitarnya seperti TangSel, Bekasi, Bogor Kabupaten dan Bogor Kota merupakan suatu kelemahan sebuah kota. Padahal, Kota disekitarnya saat ini jauh lebih berkembang dibanding Depok,” imbuhnya.
Secara perlahan tapi pasti, Kota Depok mulai kehilangan kultur dan budaya aslinya. Dan persoalan banjir dan kemacetan akan menjadi hal yang biasa. Terkait dengan pendidikan, ia mengatakan bahwa Pemkot Depok tidak menjadikan Dinas Pendidikan menjalankan fungsi semestinya. Banyak tawuran yang dilakukan oleh siswa didik dan sudah jadi hal biasa.
“Banyak nyawa siswa turut melayang karena tawuran dan dianggap sebagai musibah biasa. Disdik Depok tidak pernah melakukan kajian ataupun evaluasi secara ilmiah untuk mengetahui kenapa kecenderungan tawuran meningkat,” katanya.
Kota Depok dengan slogan Unggul, Nyaman dan Religius akan sulit membuktikan jati dirinya sebagai sebuah kota yang dibentuk dan dikembangkan. Mengakomodasi keinginan dan kebutuhan masyarakatnya diwujudkan dalam rencana yang berbasis ilmu, bukan sebuah kota yang dibangun dengan slogan.
“Kata-kata asing seperti Smart City, Spirit of Humanity tidak sepadan dengan kondisi yang ada saat ini. Diharapkan Pemkot Depok melakukan sesuatu selalu berdasarkan keilmuan seperti menugaskan seseorang kepala dinas, camat, lurah, berdasarkan kapasitas keilmuan yang mereka miliki,” pungkasnya. (Udine/DT).












